Pelni Ambon Klarifikasi Gagal Naik KM Ciremai: Bukan Kesalahan Kapal, Tiket Penumpang Tidak Sesuai

Ambon,LensoMerah.com – Kepala Cabang PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Ambon, Marthin Heriyanto, memberikan klarifikasi resmi terkait insiden di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, Senin (12/1/2026), di mana puluhan penumpang tujuan Sorong dan Jayapura gagal naik KM Ciremai meskipun mengaku telah memiliki tiket.

Marthin menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan disebabkan oleh kesalahan operasional kapal, melainkan akibat ketidaksesuaian data tiket dengan identitas penumpang, serta ditemukannya praktik penggunaan tiket bekas dan tiket kapal lain.

“Sekitar 30 orang tidak dapat naik karena tiket yang digunakan tidak sesuai. Ada yang memakai tiket bekas, bahkan ada yang menggunakan tiket kapal lain seperti KM Dorolonda. Ini jelas tidak bisa dibenarkan,” tegas Marthin kepada awak media.

Ia menjelaskan, kebiasaan sebagian masyarakat yang hanya membeli tiket sekali jalan turut memicu persoalan, terutama pada masa liburan dan saat arus penumpang meningkat. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk memaksakan diri naik kapal meski tiket telah habis.

“Ketika kapal terakhir tiba, banyak penumpang dari kapal sebelumnya yang tidak tertampung kemudian beralih ke kapal ini. Karena tiket sudah habis, ada yang mencoba naik dengan cara-cara yang melanggar aturan,” ujarnya.

Marthin menekankan bahwa tiket kapal bukan sekadar bukti perjalanan, tetapi juga jaminan perlindungan asuransi jiwa penumpang. Oleh karena itu, setiap penumpang wajib menggunakan tiket resmi yang sesuai dengan nama dan identitas pada KTP.

“Kalau terjadi sesuatu di laut, siapa yang bertanggung jawab jika nama di tiket tidak sesuai? Tiket itu untuk meng-cover keselamatan penumpang. Ini yang masih belum disadari oleh sebagian masyarakat,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa Pelni sebagai operator pelayaran nasional wajib mematuhi Undang-Undang Pelayaran, termasuk ketentuan kapasitas kapal demi keselamatan.

“Kapal tidak bisa dipaksakan melebihi kapasitas, meskipun secara fisik masih memungkinkan. Ibarat mobil berkapasitas delapan orang, memang bisa diisi lebih, tapi apakah aman dan nyaman? Aturan keselamatan tidak bisa ditawar,” kata Marthin.

Lebih lanjut dijelaskan, KM Ciremai merupakan kapal multiport yang tidak hanya mengangkut penumpang dari Ambon, tetapi juga dari pelabuhan-pelabuhan berikutnya. Selain itu, kapasitas kapal juga berkurang karena sebagian ruang kendaraan telah dimodifikasi untuk kebutuhan operasional tertentu.

Terkait jadwal keberangkatan, Marthin menegaskan bahwa kapal harus berangkat tepat waktu. Keterlambatan satu jam saja dapat berdampak panjang terhadap seluruh jadwal pelayaran hingga dua minggu ke depan.

“Kalau kapal terlambat, efeknya berantai. Jadwal di pelabuhan lain terganggu dan kinerja operasional Pelni secara nasional ikut terdampak,” ujarnya.

Di akhir keterangannya, Marthin mengimbau masyarakat agar membeli tiket secara resmi, sesuai identitas, dan dilakukan jauh hari sebelumnya, termasuk tiket pulang-pergi, guna menghindari masalah serupa di masa mendatang.

“Ini menyangkut keselamatan dan kenyamanan bersama. Kalau kita datang ke rumah orang, tentu harus mengikuti aturan rumah tersebut,” pungkasnya.(LM01)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *