Marwah Melayu di Ujung Tanduk: Gedung LAM Bukit Batu Rusak, Pengurus dan DPRD Disentil

Bukit Batu — Kondisi Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kecamatan Bukit Batu yang berdiri di kawasan Tanah Datuk Laksamana Raja Dilaut kian memprihatinkan. Bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi dan menjadi simbol marwah adat Melayu itu kini tampak terbengkalai, tidak terawat, dan nyaris kehilangan fungsinya sebagai pusat kegiatan adat.

Dari hasil pantauan di lapangan, kerusakan terlihat di berbagai bagian gedung. Cat dinding mengelupas, sejumlah fasilitas pendukung mengalami kerusakan, serta lingkungan sekitar tampak kumuh dan tidak terurus. Kondisi ini sangat kontras dengan gedung LAM di tingkat kabupaten yang berdiri lebih megah dan representatif sebagai simbol budaya Melayu.

Tokoh Gerakan Anak Melayu Laskar RMRB Kabupaten Bengkalis mengaku prihatin atas kondisi tersebut. Ia menilai bangunan yang berdiri di kawasan bersejarah seharusnya mendapatkan perhatian serius dari semua pihak.

“Gedung ini berdiri di Tanah Datuk Laksamana Raja Dilaut dan memiliki nilai sejarah yang tinggi. Sangat disayangkan jika dibiarkan terbengkalai tanpa perhatian,” ujarnya.

Menurutnya, terdapat ketimpangan dalam perhatian terhadap pelestarian adat Melayu. Gedung bersejarah di tingkat kecamatan justru terabaikan, sementara pembangunan simbol adat di pusat pemerintahan terlihat lebih diprioritaskan.

“Ini ironi. Yang memiliki nilai sejarah justru terbengkalai, sementara yang di pusat tampak megah. Ini menunjukkan belum adanya keadilan dalam perhatian terhadap adat Melayu,” tegasnya.

Kritik juga diarahkan kepada anggota DPRD Kabupaten Bengkalis dari daerah pemilihan Bukit Batu yang dinilai belum menunjukkan kepedulian nyata terhadap kondisi tersebut.

“Sebagai wakil rakyat, mereka harus peka. Jangan hanya hadir saat seremonial, tetapi juga memperjuangkan keberlanjutan aset adat di daerah,” tambahnya.

Selain itu, sorotan juga tertuju pada internal kepengurusan LAM Bukit Batu. Laskar Melayu RMRB Kabupaten Bengkalis menilai sekretaris LAM Bukit Batu lebih fokus mengurusi kegiatan seni budaya, sementara kondisi gedung dan marwah LAMR Bukit Batu justru terabaikan.

“Sekretaris LAM Bukit Batu dinilai lebih fokus pada kegiatan seni budaya, sementara gedung dan marwah LAMR Bukit Batu terbengkalai. Hal ini sangat disayangkan oleh Laskar Melayu RMRB Kabupaten Bengkalis,” ungkapnya.

Kekecewaan juga disampaikan langsung oleh Ketua Laskar Melayu RMRB Kabupaten Bengkalis terhadap sikap Sekretaris LAM Bukit Batu. Ia menilai adanya kurangnya penghargaan terhadap peran organisasi Melayu yang selama ini turut menjaga marwah adat di daerah.

“Ketua Laskar Melayu RMRB Kabupaten Bengkalis sangat menyayangkan sikap Sekretaris LAM Bukit Batu yang dinilai tidak menghargai kami selaku organisasi Melayu di Kabupaten Bengkalis. Padahal, kami hadir sebagai bagian dari elemen masyarakat yang peduli terhadap pelestarian adat dan marwah Melayu,” tegasnya.

Ia menambahkan, seharusnya ada sinergi dan komunikasi yang baik antara pengurus LAM dengan organisasi Melayu lainnya, bukan justru terkesan mengabaikan.

“Seharusnya kita saling merangkul, bukan berjalan sendiri-sendiri. Jika komunikasi tidak dibangun dengan baik, maka upaya menjaga marwah adat Melayu akan semakin lemah,” lanjutnya.

Dalam pernyataan yang lebih tegas, Ketua Laskar Melayu RMRB juga menekankan bahwa makna Melayu tidak boleh dipersempit hanya pada kegiatan seremonial semata.

“Melayu itu bukan hanya menari dan bernyanyi. Bukit Batu ini dikenal dengan sejarah Datok Laksamana, pejuang dan laskar pendekar. Nilai perjuangan itu yang harus dihidupkan kembali,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa peran lembaga adat seharusnya hadir dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat, bukan sekadar aktivitas simbolik.

“Jangan hanya menari dan bernyanyi, tapi juga harus bernyali memperjuangkan nasib masyarakat, khususnya di Bukit Batu,” tambahnya dengan nada tegas.

Desakan masyarakat kini semakin kuat agar dilakukan pembenahan secara menyeluruh, baik dari sisi fisik bangunan maupun tata kelola organisasi LAM di tingkat kecamatan.

Menurutnya, tanpa pengurus yang aktif dan bertanggung jawab, perbaikan gedung hanya akan menjadi solusi sementara.

“Perbaikan harus total. Gedungnya diperbaiki, pengurusnya juga harus dievaluasi. Kalau tidak, kondisi seperti ini akan terus berulang,” katanya.

Selain mengandalkan anggaran pemerintah, masyarakat juga mendorong adanya kerja sama dengan pihak swasta dan dunia usaha melalui skema yang transparan.

Desakan juga ditujukan kepada LAM Kabupaten Bengkalis agar lebih responsif terhadap kondisi tersebut.

“LAM kabupaten harus turun tangan. Ini bukan sekadar bangunan, tetapi simbol marwah Melayu yang harus dijaga bersama,” tutupnya.

Masyarakat berharap langkah cepat segera diambil. Jika tidak, Gedung LAM Bukit Batu akan terus menjadi simbol keterabaian terhadap warisan sejarah dan identitas adat Melayu di Tanah Datuk Laksamana Raja Dilaut.

Diduga Oknum ASN Makan dan Minum Terbuka di Roro Bengkalis, Laskar Melayu Angkat Bicara

BENGKALIS – Peristiwa yang menarik perhatian penumpang terjadi di atas kapal penyeberangan roro Bengkalis pada Minggu siang sekitar pukul 12.00 WIB. Di tengah padatnya penumpang yang menyeberang dan suasana bulan suci Ramadan, beberapa orang yang diduga Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Kementerian Hak Asasi Manusia Republik Indonesia terlihat makan dan minum secara terbuka di area tempat duduk penumpang.

Berdasarkan keterangan sejumlah penumpang, rombongan tersebut diperkirakan berjumlah sekitar lima orang yang terdiri dari tiga pria dan dua wanita. Mereka terlihat duduk santai di meja makan yang berada di area penumpang kapal.

Kondisi tersebut sontak menarik perhatian penumpang lain, mengingat saat itu mayoritas masyarakat yang berada di kapal sedang menjalankan ibadah puasa.

Salah seorang penumpang yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa kejadian tersebut sempat menjadi pembicaraan di antara penumpang yang berada di sekitar lokasi.

“Saat itu kondisi kapal cukup ramai. Kami melihat ada beberapa orang duduk santai di meja makan dan minum di siang hari. Beberapa penumpang hanya saling pandang dan membicarakannya pelan-pelan,” ujarnya.

Penumpang lainnya juga mengaku sempat merasa kurang nyaman dengan situasi tersebut, apalagi salah satu dari rombongan tersebut terlihat mengenakan jilbab.

“Bukan soal mereka makan atau tidak, mungkin saja mereka tidak berpuasa. Tapi kalau dilakukan secara terbuka di tengah penumpang yang mayoritas sedang berpuasa, tentu terasa kurang enak dilihat,” kata penumpang tersebut.

Menurut keterangan penumpang lain, setelah selesai makan, beberapa pria dari rombongan tersebut juga terlihat merokok di area yang masih dipadati penumpang.

Hal ini kemudian memicu berbagai tanggapan dari masyarakat yang berada di kapal saat itu.

Menanggapi peristiwa tersebut, Laskar Melayu RMRB Kabupaten Bengkalis turut menyampaikan keprihatinannya. Ketua Laskar Melayu RMRB menilai kejadian tersebut menunjukkan kurangnya kepekaan terhadap situasi masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa.

“Kami mendapat informasi bahwa ada sekitar lima orang yang diduga ASN, terdiri dari tiga pria dan dua wanita, duduk santai di meja lalu makan dan makan secara terbuka tanpa memperhatikan kondisi penumpang lain yang sedang berpuasa. Bahkan salah satu di antaranya terlihat mengenakan jilbab,” ujar Ketua Laskar Melayu RMRB.

Ia juga menyayangkan adanya laporan bahwa setelah selesai makan, beberapa pria dari rombongan tersebut merokok di hadapan penumpang lain.

“Lebih disayangkan lagi, setelah selesai makan, para pria tersebut dengan santainya merokok di depan penumpang yang sedang berpuasa. Hal seperti ini tentu dinilai kurang beretika, apalagi dilakukan di ruang publik,” tegasnya.

Ketua Laskar Melayu RMRB juga menegaskan bahwa Bengkalis merupakan daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat Melayu dan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

“Ini adalah Kota Bengkalis, tanah Melayu. Masyarakat Melayu dikenal menjunjung tinggi adat dan nilai-nilai Islam. Karena itu kami berharap siapa pun yang datang ataupun menggunakan fasilitas publik di daerah ini dapat menghormati nilai-nilai yang dijunjung masyarakat tempatan,” katanya.

Ia juga mengimbau kepada seluruh masyarakat yang menggunakan jasa penyeberangan roro Bengkalis agar dapat saling menghargai, terutama selama bulan suci Ramadan.

“Kami meminta kepada masyarakat yang menggunakan jasa roro Bengkalis untuk saling menghargai kami sebagai warga tempatan. Bukan berarti melarang, tetapi mari sama-sama menjaga etika dan saling menghormati,” tambahnya.

Pihaknya juga berharap manajemen kapal penyeberangan roro Bengkalis dapat memberikan perhatian terhadap kenyamanan penumpang, termasuk menjaga etika di ruang publik selama bulan Ramadan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai kejadian tersebut. Peristiwa ini pun menjadi bahan perbincangan di kalangan penumpang yang berada di kapal pada saat kejadian